Kamis, 17 April 2014

Asuhan Keperawatan Anak Dengan Retardasi Mental

Kata Pengantar

Dengan Mengucap syukur kehadirat Allah SWT. yang hanya dengan rahmat serta petunjuk-nya, penulis berhasil menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Anak Dengan Retardasi Mental”. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Keperawatan Anak.
Dalam penulisan ini tidak lepas dari pantauan bimbingan saran dan nasehat dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kapada yang terhormat :
1.      Ibu Andri Purwandari,S.Kep.,Ns yang telah memberikan tugas dan kesempatan kepada kami untuk membuat dan menyusun makalah ini.
2.      Serta semua pihak yang telah membantu dan memberikan masukan serta nasehat  hingga tersusunnya makalah ini hingga akhir.
Karena keterbatasan ilmu dan pengalaman, penulis sadar masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah dan Askep ini. Oleh karena itu kritik dan saran yang berkaitan dengan penyusunan makalah dan Askep ini akan penulis terima dengan senang hati untuk menyempurnakan penyusunan makalah dan Askep tersebut.
Semoga makalah dan Askep yang berjudul “Retardasi Mental” ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca.




Yogyakarta, 

                                            
Penulis



Daftar Isi

Halaman Judul

Kata Pengantar.................................................................................................................

Daftar Isi...........................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................

          a.       Latar Belakang.......................................................................................................
          b.      Tujuan....................................................................................................................

BAB II TINJAUAN TEORI....................................................................................

         a.       Definisi..................................................................................................................
         b.      Etiologi...................................................................................................................
         c.       Manifestasi Klinis..................................................................................................
         d.      Klasifikasi..............................................................................................................
         e.       Pathway..................................................................................................................
          f.       Komplikasi.............................................................................................................
          g.      Prognosis................................................................................................................
          h.      Pemeriksaan Penunjang.........................................................................................
          i.        Pengkajian Fokus...................................................................................................
          j.        Penatalaksanaan....................................................................................................
1.      Farmakologi....................................................................................................
2.      Non Farmakologi.............................................................................................

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN....................................................................

        a.       Pengkajian...............................................................................................................
        b.      Diagnosa yang mungkin muncul.............................................................................
        c.        Manajemen Keperawatan.......................................................................................

BAB IV PENUTUP.......................................................................................................

        a.       Kesimpulan..............................................................................................................
        b.      Saran........................................................................................................................
                 
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................





i

ii

1

1
1

2

2
3
5
6
9
10
11
12
13
13
13
14

16


16
18
19

20

20
2o

21


BAB I
PENDAHULUAN
      A.   Latar Belakang
Retardasi mental merupakan masalah dunia dengan implikasi yang besar terutama bagi Negara berkembang. Diperkirakan angka kejadian retardasi mental berat sekitar 0,3% dari seluruh populasi dan hampir 3% mempunyai IQ dibawah 70.Sebagai sumber daya manusia tentunya mereka tidak bias dimanfaatkan karena 0,1% dari anak-anak ini memerlukan perawatan, bimbingan serta pengawasan sepanjang hidupnya.(Swaiman KF, 1989).
Prevalensi retardasi mental sekitar 1 % dalam satu populasi. Di indonesia 1-3 persen penduduknya menderita kelainan ini. Insidennya sulit di ketahui karena retardasi metal kadang-kadang tidak dikenali sampai anak-anak usia pertengahan dimana retardasinya masih dalam taraf ringan. Insiden tertinggi pada masa anak sekolah dengan puncak umur 10 sampai 14 tahun. Retardasi mental mengenai 1,5 kali lebih banyak pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan.Sehingga retardasi mental masih merupakan dilema, sumber kecemasan bagi keluarga dan masyarakat. Demikian pula dengan diagnosis, pengobatan dan pencegahannya masih merupakan masalah yang tidak kecil.
    B.   Tujuan
Untuk meningkatkan kualitas pengetahuan perawat serta meningkatkan kualifikasi perawat dalam praktiknya nanti. Sehingga perawat dapat menjalankan tugas dalam praktiknya sesuai dengan prosedur yang aman dan kompeten.



BAB II
TINJAUAN TEORI
   A.   Definisi
Terdapat berbagai definisi mengenai retardasi mental. Menurut WHO (dikutip dari Menkes 1990), retardasi mental adalah kemampuan mental yang tidak mencukupi. Carter CH (dikutip) dari Toback C ), mengatakan retardasi mental adalah suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensi yang rendah yang menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat atas keemampuan yang dianggap normal. Menurut Crocker AC 1983, retadarsi mental adalah apabila jelas terdapat fungsi intelegensi yang rendah, yang disertai adanya kendala dalam penyesuaian perilaku, dan gejalanya timbul pada masa perkembangan. Sedangkan menurut Melly Budhiman, seseorang dikatakan retardasi mental bila memenuhi kriteria sebagai berikut :
1.      Fungsi intelektual umum dibawah normal
2.      Terdapat kendala dalam perilaku adaptif sosial
3.      Gejalanya timbul dalam masa perkembangan yaitu dibawah usia 18 tahun.
Fungsi intelektual dapat diketahui dengan test fungsi kecerdasan dan hasilnya dinyatakan sebagai suatu taraf  kecerdasan atau IQ (intelegence Quotient).
                                    IQ adalah MA / CA x 100 %
MA  = Mental Age, umur mental yang didapat dari hasil test
CA  = Chronological Age, umur berdasarkan perhitungan tanggal lahir
Yang dimaksud fungsi intelektual dibawah normal yaitu apabila IQ dibawah 70. Anak ini tidak dapat mengikuti pendidikan sekolah biasa, karena cara berpikirnya yang terlalu sederhana, daya tangkap dan daya ingatnya lemah, demikian pula dengan pengertian bahasa dan hitungannya juga sangat lemah.

Sedangkan yang dimaksud dengan perilaku adaptif sosial adalah kemampuan seeorang untuk mandiri, menyesuaikan diri dan mempunyai tanggung jawab sosial yang sesuai dengan kelompok umur dan budayanya. Pada penderita retardasi mental gangguan perilaku adaptif yang paling menonjol adalah kesulitan menyesuaikan diri dengan masyarakatsekitarnya. Biasanya  tingkah lakunya kekanak-kanakan tidak sesuai dengan umurnya.
Gejala tersebut harus timbul pada masa perkembangan, yaitu dibawah umur 18 tahun. Karena kalau gejala tersebut timbul setelah umur 18 tahun, bukan lagi disebut retardasi mental tetapi penyakit lain sesuai dengan gejala klinisnya.
   B.   Etiologi
Adanya disfungsi otak merupakan dasar dariretardasi mental. Untuk menetahui adanya retardasi mental perlu anamnesis yang baik, pemeriksaan fisik dan laboratorium. Penyebab dari retardasi mental sangat kompleks dan multifaktorial. Walaupun begitu terdapat beberapa faktor yang potensial berperanan dalam terjadinya retardasi mental seperti yang dinyatakan oleh Taft LT (1983) dan Shonkoff JP (1992) di bawah ini :
Faktor-faktor  yang potensial sebagai penyebab retardasi mental
1.      Non – organik
a.       Kemiskinan dan keluarga yang tidak harmonis.
b.      Faktor sosiokultural.
c.       Interaksi anak-pengasuh yang tidak baik.
d.       Penelantaran anak
2.      Organik
a.       Faktor Prakonsepsi.
§  Abnormalitas single gen (penyakit- penyakit metabolik).
§  Kelainan kromosom
b.      Faktor Pranatal
1.      Gangguan pertumbuhan otak trimester I
§  Kelainan kromosom (trisomi, mosaik, dll).
§  Infeksi intrauterin, misalnya TORCH, HIV.
§  Zat-zat teratogen (alkohol, radiasi, dll)

§   Disfunsi  plasenta
§   Kelainan kongenital dari otak (idiopatik)
2.      Gangguan pertumbuhan otak trimester II dan III
§  Infeksi intrauterin, misalnya TORCH, HIV
§  Zat-zat teratogen (alkohol, kokain,logam berat, dll)
§  Ibu : diabetes melitus, PKU (phenylketonuria)
§   Toksemia gravidarum
§   Disfungsi plasenta
§    Ibu malnutrisi
c.       Faktor Perinatal
1.      Sangat prematur
2.      Asfiksia neonatorum
3.      Trauma lahir : perdarahan intra kranial
4.       Meningitis
5.      Kelainan metabolik : hipoglikemia, hiperbilirubinemia
d.      Faktor Post natal
1.      Trauma berat pada kepala/susunan saraf pusat
2.      Neuro toksin, misalnya logam berat
3.      CVA ( Cerebrovascular accident)
4.        Anoksia, misalnya tenggelam
5.      Metabolik
·       Gizi buruk
·       Kelainan hormonal, misanya hipotiroid
·       Aminoaciduria, misalnya PKU ( phenyl ketonuria)
·       Kelainan metabolisme karbohidrat, galaktosemia
·       Polisakaridosis, misalnya sindrom Hurler
·       Cerebral lipidosis dengan hepatomegali
·       Penyakit degeneratif/ metabolik lainnya
6.      Infeksi
·       Meningitis, ensefalitis, dll
·       Sub akut sklerosing panesefalitis

Kebanyakan anak yang menderita retardasi mental ini berasal dari golongan sosial ekonomi rendah, akibat kurangnya stimulasi dari lingkungannya sehingga secara bertahap menurunkan IQ yang bersamaan dengan terjadinya maturasi. Demikian pula pada keadaan sosial ekonomi yang rendah dapat sebagai penyebab organik dari retardasi mental, misalnya keracunan logam berat yamg subklinik dalam jangka waktu yang lama dapat mempengaruhi kemampuan kognitif, ternyata lebih banyak anak-anak dikota dari golongan sosial ekonomi rendah.

   C.   Manifestasi Klinis
a.       Gangguan Kognitif
b.      Lambatnya ketrampilan dan bahasa
c.       Gagal melewati tahap perkembangan utama
d.      Kemungkinan lambatnya pertumbuhan
e.      Kemungkinan tonus otot abnormal
f.        Terlambatnya perkembangan motorik halus dan kasar
Sedangkan gejala dari retardasi mental tergantung dari tipenya, adalah sebagai berikut:
1.      Retradasi Mental Ringan
Keterampilan social dan komunikasinya mungkin adekuat dalam tahun-tahun prasekolah. Tetapi saat anak menjadi lebih besar, deficit koognitif tertentu seperti kemampuan yang buruk untuk berpikir abstrak dan egosentrik mungkin membedakan dirinya dari anak lain seusianya.
2.      Retradasi Mental Sedang
Keterampilan komunikasi berkembang lebih lambat. Isolasi social dirinya mungkin  dimulai pada usia sekolah dasar. Dapat dideteksi lebih dini jika dibandingkan retradasi mental ringan.
3.      Retradasi Mental Berat
Bicara anak terbatas dan perkembangan motoriknya buruk. Pada usia prasekolah sudah nyata ada gangguan. Pada usia sekolah mungkin kemampuan bahasanya berkembang. Jika perkembangan bahasanya buruk, bentuk komunikasi nonverbal dapat berkembang.

4.      Retradasi Mental Sangat Berat
Keterampilan komunikasi dan motoriknya sangat terbatas. Pada masa dewasa dapat terjadi perkembangan bicara dan mampu menolong diri sendiri secara sederhana. Tetapi seringkali masih membutuhkan perawatan orang lain.
Terdapat ciri klinis lain yang dapat terjadi sendiri atau menjadi bagian dari gangguan retradasi mental , yaitu hiperakivitas, toleransi frustasi yang rendah, agresi, ketidakstabilan efektif , perilaku motorik stereotipik berulang, dan perilaku melukai diri sendiri.

   D.   Klasifikasi
Menurut nilai IQ-nya, maka intelegensi seseorang dapat digolongkan sebagai berikut (dikutip dari Swaiman 1989):
Nilai IQ :
1.      Sangat superior 130 atau lebih
2.      Superior 120-129
3.      Diatas rata-rata 110-119
4.      Rata-rata 90-110
5.      Dibawah rata-rata 80-89
6.      Retardasi mental borderline 70-79
7.      Retardasi mental ringan (mampu didik) 52-69
8.      Retardasi mental sedang (mampu latih ) 36-51
9.      Retardasi mental berat 20-35
10.  Retardasi mental sangat berat dibawah 20
Yang disebut retardasi mental apabila IQ dibawah 70, retardasi mental tipe ringan masih mampu didik, retardasi mental tipe sedang mampu latih, sedangkan retardasi mental tipe berat dan sangat berat memerlukan pengawasan dan bimbingan seumur hidupnya. Bila ditinjau dari gejalanya, maka Melly Budhiman membagi:
1.      Tipe klinik
Pada retardasi mental tipe klinik ini mudah dideteksi sejak dini, karena kelainan fisis maupun mentalnya cukup berat. Penyebabnya sering kelainan organik. Kebanyakan anak ini perlu perawatan yang terus menerus dan kelainan ini dapat terjadi pada kelas sosial tinggi ataupun yang rendah. Orang tua dari anak yang menderita retardasi mental tipe klinik ini cepat mencari pertolongan oleh karena mereka melihat sendiri kelainan pada anaknya.
2.      Tipe sosio budaya
Biasanya baru diketahui setelah anak masuk sekolah dan ternyata tidak dapat men­gikuti pelajaran. Penampilannya seperti anak normal, sehingga disebut juga retardasi enam jam. Karena begitu rnereka keluar sekolah, mereka dapat bermain seperti anak­anak yang normal lainnya. Tipe ini kebanyakan berasal dari golongan sosial ekonomi rendah. Para orang tua dari anak tipe ini tidak melihat adanya ketainan pada anaknya, mereka mengetahui kalau anaknya retardasi dari gurunya atau dari psikolog, karena anaknya gagal beberapa kali tidak naik kelas. Pada urnumnya anak tipe ini mempunyai taraf IQ golongan borderline dan retardasi mental ringan.

Klasifikasi Menurut Page :
1.       Idiot (IQ dibawah 20; umur mental dibawah 3 tahun)
2.       Imbisil (IQ antara 20-50, umur mental 3-7,5 tahun)
3.       Moron ( IQ 50-70, umur mental 7,5-10,5 tahun)
Tabel Derajat Retradasi Mental
Derajat RM
IQ
Usia Prasekolah
(0-5 tahun)
Usia Sekolah
(0-21 tahun)
Usia Dewasa
(>21 tahun)
Sangat berat




Berat





Sedang







Ringan
<20




20-23





35-49







50-69
Retradasi jelas




Perkembangan motorik yang miskin



Dapat berbicara atau belajar berkomunikasi, ditangani dengan pengawasan sedang


Dapat mengembangkan keterampilan social dan komunikasi, retradasi minimal
Beberapa Perkembangan motorik dapat berespon namun terbatas

Dapat bicara atau berkomunikasi namun latuhan kejujuran tidak bermanfaat


Latihan dalam keterampilan social dan pekerjaan dapat bermanfaat, dapat pergi sendiri ketempat yang telah dikenal


Dapat belajar keterampilan akademik sampai ± kelas 6 SD
Perkembangan motorik dan bicara sangat terbatas

Dapat berperan sebagian dalam pemeliharaan diri sendiri dibawah pengawasan ketat

Dapat bekerja sendiri tanpa dilatih namun perlu pengawasan terutama jika berada dalam stress

Biasanya dapat mencapai keterampilan social dan kejujuran namun perlu bantuan terutama bila stres






    E.      Pathway                                                                             Kelainan Kromosom
          Disfungsi Plasenta
                                                                              Klainan Kongenital dari otak
                                                      Pranatal            Infeksi : HIV
RETARDASI MENTAL
                                                                                Malnutrisi.                     
 

      Perinatal               Sangat prematur
Fungsi intelektual                                                                  Meningitis
umum di bawah                                                                   Gangguan Metabolisme
normal (IQ < 70-75)
      Postnatal              Kelainan Genetik
Akibat Rudapaksa /sbb fisik lainnya.
Infeksi
Gizi buruk.
 

Gangguan       Lambatnya                 Gangguan melewati              Terlambatnya
Kognitif           Keterampilan             tahap Tumbang                     Perkembangan
                        Dan bahasa                                                                Motirk kasar dan halus
 


Paralisis          Defisit Sensoris         Gangguan       Kejang
Serebral                                             Psikiatrik
 



Gangguan                    Gangguan        Resiko              Gangguan        Gangguan        Defisit
Pertumbuhan              Komunikasi      Cidera             Interaksi          Proses              perawatan
Sosial               Keluarga                      Diri


F.    Komplikasi
1.      Kelainan pada mata
a.        katarak
·         Sindrom Cockayne        
·         Sindrom Lowe
·         Galactosemia
·          Sindrom Down
·         Kretin
·         Rubela pranatal
b.      Bintik Cherry-merah pada daerah makula
·         Mukolipidosis
·         Penyakit Niemann-Pick
·         Penyakit Tay-Sachs
c.       Korioretinitis
·         Lues kongenital
·         Penyakit sitomegalo virus
·         Rubela pranatal
d.      Kornea keruh
·         Lues kongenital
·         Sindrrom Hunter
·         Sindrom Hurler
·         Sindrom Lowe
2.      Kejang
a.       Kejang umum tonik klonik
§  Defisiensi glikogen sinthetase
§   Hiperlisinemia
§   Hipoglikemia
b.      kejang pada masa neonatal
§  arginosuccinic asiduria
§  hiperammonemia I dan II
§   laktik asidosis


c.       Kelainan kulit
§  Ataksia –telengiektasia
§  Sindrom Bloom
§  Tuberous selerosis
d.      Kelainan Rambut
§  Rambut rontok
§  Rambut cepat memutih
§  Rambut halus
e.       Kepala
§  Mikrosefali
§  Makrosefali
§  Perawakan pendek
§  Distonia

   G.  Prognosis
Retardasi mental yang diketahui penyakit dasarnya, biasanya prognosisnya lebih baik. Tetapi pada umumnya sukar untuk menemukan penyakit dasarnya. Anak dengan retardasi mental ringan, dengan kesehatan yang baik, tanpa penyakit kardiorespirasi, pada umumnya umur harapan hidupnya sama dengan orang yang normal. Tetapi sebaliknya pada retardasi mental yang berat dengan masalah kesehatan dan gizi, sering meninggal pada usia muda.
Ø  Pencegahan
1.      Imunisasi bagi anak dan ibu sebelum kehamilan
2.      Konseling perkawinan
3.      Pemeriksaan kehamilan rutin
4.      Nutrisi yang baik
5.      Persalinan oleh tenaga kesehatan
6.      Memperbaiki sanitasi dan gizi keluarga
7.      Pendidikan kesehatan mengenai pola hidup sehat
8.      Program mengentaskan kemiskinan, dll



   H.  Pemeriksaan Penunjang.
Beberapa pemeriksaan penunjang perlu dilakukan pada anak yang menderita retardasi mental, yaitu dengan:
1.      Kromosomal Kariotipe
a.       Terdapat beberapa kelainan fisik yang tidak khas
b.      Anamnesis ibu tercemar zat-zat teratogen
c.       Terdapat beberapa kelainan kongenital
d.      Genetalia abnormal
2.      EEG ( Elektro Ensefalogram)
a.       Gejala kejang yang dicurigai
b.      Kesulitan mengerti bahasa yang berat
3.      CT ( Cranial Computed Tomography) atau MRI ( Magnetic Resonance Imaging)
a.       Pembesaran kepala yang progresif
b.      Tuberous sklerosis
c.       Dicurigai kelainan otak yang luas
d.      Kejang lokal
e.       Dicurigai adanya tumor intrakranial
4.      Titer virus untuk infeksi kongenital
a.       Kelainan pendengaran tipe sensorineural
b.      Neonatal hepatosplenomegali
c.       Petechie pada periode neonatal
d.      Chorioretinitis
e.       Mikroptalmia
f.       Kalsifikasi intrakranial
g.      Mikrosefali
5.      Serum asam urat ( uric acid serum)
a.       Gout
b.      Sering mengamuk
6.      Laktat dan piruvat darah
a.       Asidosis metabolik
b.      Kejang mioklonik


    I.      Pengkajian Fokus
1.      Lakukan pengkajian fisik
2.      Lakukan pengkajian pengkajian
3.      Dapatkan riwayat keluarga, terutama mengenai retardasi mental dan gangguan herediter dimana retardasi mental adalah salah satu iwayat kesehatan jenisnya yang utama.
4.      Dapatkan riwayat kesehatan untuk mendapatkan bukti-bukti adanya trauma prenatal,perinatal atau pascanatal atau cedera fisik.
5.      Bantu dengan tes diagnostic mis., analisis kromosom, disfungsi metabolic, radiografi, tomografi, elektroensefalografi.
6.      Lakukan atau bantu dengan tes intelegensia –Standford Binet, Wechsler Intelegence Scale for Children.
7.      Lakukan atau bantu dengan tes perilaku adaptif Vineland Social Maturity Scale, American Association of Mental Retardation Adaptife Behavior Scale.
8.      Observasi adanya manifestasi dini dari retardasi mental: tidak responsive terhadap kontak, kontak mata buruk selama menyusu, penurunan aktivitas spontan, penurunan kesadaran terhadap suara atau gerakan peka rangsang, menyusu lambat.

   J.     Penatalaksanaan.
1)      Farmakologi
Anak Retardasi mental biasanya disertai dengan gejala hyperkinetik (selalu bergerak, konsentrasi kurangdan perhatian mudah dibelokkan). Obat-obat yang sering digunakan dalam bidang retardasi mentaladalah terutama untuk menekan gejala-gejala hyperkinetik, misalnya :
·         Amphetamin dosis 0,2 - 0,4 mg/kg/hari
·         Imipramin dosis ± 1,5 mg/kg/hariEfek sampingan kedua obat diatas dapat menimbulkan convulsi
·         Valium, Nobrium, Haloperidol dsb. dapat juga menekan gejala hyperkinetik
Ø  Obat-obatan untuk konvulsi :
§  Dilantin dosis 5 - 7 mg/kg/hari (Dilantin dapat juga menurunkan gejala hyperkinetik, gejalagangguan emosi dan menaikkan fungsi berfikir).
§  Phenobarbital dosis 5 mg/kg/hari (Phenobarbital dapat menaikkan gejala hyperkinetik).
§  Cofein : baik untuk convulsi dan menurunkan gejala hyperkinetik
Ø  Obat-obatan untuk menaikkan kemampuan belajar :
§  Pyrithioxine (Encephabol, Cerebron).
§  Glutamic acid.
§  Gamma amino butyric acid (Gammalon).
§  Pabenol.
§  Nootropil.
§  Amphetamin dsb.
2)      Non Farmakologi
Psikoterapi dapat diberikan baik pada anaknya sendiri maupun pada orang tuanya. Untuk anakyang terbelakang dapat diberikan psikoterapi individual, psikoterapi kelompok dan manipulasi lingkungan(merubah lingkungan anak yang tidak menguntungkan bagi anak tersebut). Walaupun tak akan dapatmenyembuhkan keterbelakangan mental, tetapi dengan psikoterapi dan obat-obatan dapat diusahakanperubahan sikap, tingkah laku, kemampuan belajar dan hasil kerjanya. Yang penting adalah adanyaketekunan, kesadaran dan minat yang sungguh dari pihak terapis (yang mengobati).
Terapis bertindak sebagai pengganti orang tua untuk membuat koreksi-koreksi terhadaphubungan yang tak baik ini. Dari pihak perawat diperlukan juga ketekunan dan kesadaran dalam merawatanak-anak dengan retardasi mental serta melaporkan kepada dokter bila dalam observasi terdapattingkah laku anak maupun orang tua yang negatif, merugikan bagi anak tersebut maupun lingkungannya(teman-teman disekitarnya).
Social worker (pekerja sosial) melakukan kunjungan rumah untuk melihat hubungan anak denganorang tua, saudara-saudaranya maupun dengan masyarakat sekitarnya. Tugasnya utama mencari data-data anak dan orang tua serta hubungan anak dengan orang-orang disekitarnya. Untuk ibu atau orangtua anak dengan retardasi mental dapat diberikan family terapi (terapi keluarga) untuk mengubah sikaporang tua atau saudaranya yang kurang baik terhadap penderita. Dapat diberikan juga terapi kelompok dengan ibu-ibu.
Anak retardasi mental lainnya, seminggu sekali selama 12 kali. Tujuannya untuk mengurangi sikaprendah diri, perasaan kecewa dari ibu tersebut karena ternyata banyak ibu lain yangmengalami nasib serupa, mempunyai anak dengan retardasi mental. Dengan demikian ibu dapatbersikap lebih realistik dan lebih dapat menerima anaknya serta dapat merencanakan program yang baikbagi anaknya. Di luar negeri social worker yang bertugas memberi terapi kelompok untuk ibu-ibu tersebut di atas.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
   A.   Pengkajian
a.       Tanda dan gejala :
§  Mengenali  sindrom seperti adanya DW atau mikrosepali
§  Adanya kegagalan perkembangan yang merupakan indikator RM seperti anak RM berat biasanya mengalami kegagalan perkembangan pada tahun pertama kehidupannya, terutama psikomotor; RM sedang memperlihatkan penundaan pada kemampuan bahasa dan bicara, dengan kemampuan motorik normal-lambat, biasanya terjadi pada usia 2-3 tahun; RM ringan biasanya terjadi pada usia sekolah dengan memperlihatkan kegagalan anak untuk mencapai kinerja yang diharapkan.
§  Gangguan neurologis yang progresif
b.Tingkatan/klasifikasi RM (APA dan Kaplan; Sadock dan Grebb, 1994)
1.Ringan ( IQ 52-69; umur mental 8-12 tahun)
 Karakteristik :
§  Usia presekolah tidak tampak sebagai anak RM, tetapi terlambat dalam kemampuan berjalan, bicara , makan sendiri, dll
§  Usia sekolah, dapat melakukan ketrampilan, membaca dan aritmatik dengan pendidikan khusus, diarahkan pada kemampuan aktivitas sosial.
§  Usia dewasa, melakukan ketrampilan sosial dan vokasional, diperbolehkan menikah tidak dianjurkan memiliki anak. Ketrampilan psikomotor tidak berpengaruh kecuali koordinasi. 
2.Sedang ( IQ 35- 40 hingga 50 - 55; umur mental 3 - 7 tahun)
            Karakteristik :
§  Usia presekolah, kelambatan terlihat pada perkembangan motorik, terutama bicara, respon saat belajar dan perawatan diri.
§  Usia sekolah, dapat mempelajari komunikasi sederhana, dasar kesehatan, perilaku aman, serta ketrampilan mulai sederhana, Tidak ada kemampuan membaca dan berhitung.
§  Usia dewasa, melakukan  aktivitas latihan tertentu, berpartisipasi dalam rekreasi, dapat melakukan perjalanan sendiri ke tempat yang dikenal, tidak bisa membiayai sendiri.
3. Berat ( IQ 20-25 s.d. 35-40; umur mental < 3 tahun)
Karakteristik :
§  Usia prasekolah kelambatan nyata pada perkembangan motorik, kemampuan komunikasi sedikit bahkan tidak ada, bisa berespon dalam perawatan diri tingkat dasar seperti makan.
§  Usia sekolah, gangguan spesifik dalam kemampuan berjalan, memahami sejumlah komunikasi/berespon, membantu bila dilatih sistematis.
§  Usia dewasa, melakukan kegiatan rutin dan aktivitas berulang, perlu arahan berkelanjutan dan protektif lingkungan, kemampuan bicara minimal, meggunakan gerak tubuh.
4. Sangat Berat ( IQ dibawah 20-25; umur mental seperti bayi)
Karakteristik :
§  Usia prasekolah retardasi mencolok, fungsi Sensorimotor minimal, butuh perawatan total.
§  Usia sekolah, kelambatan nyata di semua area perkembangan, memperlihatkan respon emosional dasar, ketrampilan latihan kaki, tangan dan rahang. Butuh pengawas pribadi. Usia mental bayi muda.
§  Usia dewasa, mungkin bisa berjalan, butuh perawatan total, biasanya diikuti dengan kelainan fisik.
Klasifikasi Menurut  Page :
·         -Idiot (IQ dibawah 20; umur mental dibawah 3 tahun)
·         -Imbisil (IQ antara 20-50, umur mental 3-7,5 tahun)
·         -Moron ( IQ 50-70, umur mental 7,5-10,5 tahun)
c.         Pemeriksaan Fisik
§  Kepala  : Mikro/makrosepali, plagiosepali (batok kepala tidak simetris).
§  Rambut : Pusarganda, rambut jarang / tidak ada, halus, mudah putus dan cepat berubah
§  Mata : mikroftalmia, juling, nistagmus, dll
§  Hidung : jembatan / punggung hidung mendatar, ukuran kecil, cuping melengkung keatas, dll
§  Mulut : bentuk “V” yang terbalik dari bibir atas, langit-langit lebar/ melengkung    tinggi.
§  Geligi : odontogenesis yang tidak normal.
§  Telinga : keduanya letak rendah; dll
§  Muka : panjang filtrum yang bertambah, hipoplasia.
§  Leher : pendek; tidak mempunyai kemampuan gerak sempurna
§  Tangan : jari pendek dan tegap atau panjang kecil meruncing, ibu jari gemuk dan lebar, klinodaktil, dll
§  Dada & Abdomen : terdapat beberapa putting, buncit, dll
§  Genitalia : mikropenis, testis tidak turun, dll
§  Kaki : jari kaki saling tumpang tindih, panjang & tegap / panjang kecil meruncing diujungnya, lebar, besar, gemuk.
d.      Tumbuh Kembang
1.      Umur 1 tahun : dapat berbicara dua atau tiga kata yang sudah bermakna. Contoh menirukan suara binatang, menyebutkan nama “papa”, “mama”. Dalam berbicara 25 % kata-katanya tidak jelas dan kedengarannya tidak biasa (unfimiliar).
2.      Umur 2 tahun : dapat menggunakan 2 sampai 3 phrase serta memiliki perbendaharaan bahasa kurang-lebih 300 kata, serta mampu menggunakan kata “saya”, “milikku”. 50 % kata-kata konteksnya masih belum jelas.
3.      Umur 3 tahun : berbicara 4 hingga 5 kalimat serta memiliki sekitar 900 kata. Dapat menggunakan kata siapa, apa, dan dimana dalam menanyakan suatu pertanyaan. 75 % kata-kata dan kalimat jelas.
4.      Umur 4-5 tahun ; memiliki 1500 – 2100 kosa kata. Dapat menggunakan grammar dengan benar terutama yang berhubungan dengan waktu. Dapat menggunakan kalimat dengan lengkap baik, kata-kata, kata kerja, kata depan, kata sifat maupun kata sambung. 100 % kata-kata sudah jelas dan beberapa ucapan masih belum sempurna.
5.      Umur 5 – 6 tahun ; memiliki 3000 kata, dapat menggabungkan kata jika, sebab, dan mengapa.

   B.   Diagnosa Yang Mungkin Muncul
1.      Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d kelainan fungsi Kognitif
2.      Gangguan komunikasi verbal b.d kelainan fungsi kognitif

3.      Risiko cedera b.d. perilaku agresif / ketidakseimbangan mobilitas fisik
4.        Gangguan interaksi sosial b.d. kesulitan bicara / kesulitana daptasi sosial
5.      Gangguan proses keluarga b.d.  memiliki anak RM
6.       Defisit perawatan diri b.d. perubahan mobilitas fisik / kurangnya kematangan perkembangan

   C.   Manajemen Keperawatan
1.       Intervensi
a.       Kaji faktor penyebab gangguan perkembangan anak
b.      Identifikasi dan gunakan sumber pendidikan untuk memfasilitasi perkembangan anak yang optimal.
c.       Berikan perawatan yang konsisten
d.      Tingkatkan komunikasi verbal dan stimulasi taktil
e.      Berikan intruksi berulang dan sederhana
f.         Berikan reinforcement positif atas hasil yang dicapai anak
g.        Dorong anak melakukan perawatan sendiri
h.      Manajemen perilaku anak yang sulit
i.          Dorong anak melakukan sosialisasi dengan kelompok
j.         Ciptakan lingkungan yang aman
2.       Implementasi
§  Pendidikan Pada Orangtua :
a.        Perkembangan anak untuk tiap tahap usia
b.      Dukung keterlibatan orangtua dalam perawatan anak
c.       Bimbingan antisipasi dan manajemen menghadapi perilaku anak yang sulit
d.      Informasikan sarana pendidikan yang ada dan kelompok, dll
3.       Evaluasi
a.        Anak berfungsi optimal sesuai tingkatannya
b.      Keluarga dan anak mampu menggunakan koping thd tantangan karena adanya ketidakmampuan
c.        Keluarga mampu mendapatkan sumber-sumber sarana komunitas.



BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Retardasi mental adalah bentuk gangguan atau kekacauan fungsi mental atau kesehatan mental yang disebabkan oleh kegagalan mereaksinya mekanisme adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan terhadap stimulus eksteren dan ketegangan-ketegangan sehingga muncul gangguan fungsi atau gangguan struktur dari suatu bagian, satu organ, atau sistem kejiwaan mental.
Retardasi mental bisa saja terjadi pada setiap individu / manusia karena adanya faktor-faktor dari dalam maupun dari luar, gejala yang ditimbulkan pada penderita retardasi mental umumnya rasa cemas, takut, halusinasi serta delusi yang besar.
Retardasi mental dapat didefinisikan sebagai keterbatasan dalam kecerdasan yang mengganggu adaptasi normal terhadap lingkungan.
Retardasi mental menurut penyebabnya, yaitu akibat infeksi, ruda paksa, gangguan metabolisme, penyakit otak post natal, gangguan gizi yang berat dan berlangsung lama sebelum umur 4 tahun, pengaruh penyakit pra natal yang tidak jelas, kelainan kromosom, prematuritas, gangguan jiwa berat, deprifasi psikososial.
B.     Saran
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, orang tua khususnya ibu, merupakan lingkungan yang pertama dan utama bagi seorang anak. Peran seorang ibu sangat penting, terutama sebagai agen kesehatan bagi anak dan keluarga dalam upaya memenuhi kebutuhan asah, asuh, asih pada anak.Perawat sebagai salah satu profesi kesehatan memiliki tanggung jawab untuk mempromosikan kesehatan keluarga dan anak, menyediakan layanan pada klien yang meliputi dukungan, pendidikan kesehatan dan pelayanan keperawatan yang dapat berkontribusi dalam meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan ibu dalam merawat anak dengan retardasi mental.


DAFTAR PUSTAKA

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar